 | imagine | Apr 5, '08 3:26 AM for everyone |
imagine there's no heaven it's easy if you try no hell below us above us only sky imagine all the people living for today...
imagine there's no countries it isn't hard to do nothing to kill or die for and no religion too imagine all the people living life in peace...
you may say I'm a dreamer but I'm not the only one I hope someday you'll join us and the world will be as one
imagine no possessions I wonder if you can no need for greed or hunger a brotherhood of man imagine all the people sharing all the world...
you may say I'm a dreamer but I'm not the only one I hope someday you'll join us and the world will live as one dearest john, it was sunny and already hot here at jakarta, early friday, 4 april 2008 as I saw a little boy slipped off the bus after being pushed by an older boy. luckily he didn't get hurt and continued his boyish steps along the busy road. I was there, people was there, but I didn't do anything. I was crying inside to witness such scene yet I didn't do anything. and I remember you. "imagine no possessions I wonder if you can no need for greed or hunger a brotherhood of man imagine all the people sharing all the world... " I was there. yet I didn't do anything. just like the world, I am slowly dying. and the feeling kills me. those faces, those smiles, how long will it last?
B : "menurut bunda aku gendut ngga?" b : "biasa aja, kenapa?" B : "aku ngerasa gendut, aku makan terus sih" b : "ya ngga papa, mas Billy kan lagi masa pertumbuhan, nanti juga kurus sendiri" B : "kenapa aku laper terus ya bun? b : "mungkin karena makannya ngga banyak, jadi masih laper. anak kecil mah ngga papa makan banyak-banyak." B : "kenapa sih bunda pikir aku masih kecil? tapi kalo aku nangis, bunda bilang - masak sudah gede masih nangis? menurut bunda, aku masih kecil atau sudah besar? end of conversation
From :+62856175xxxx Date :14/3 bu XXXX, ini XXX dari xxxxtour, saya info kembali kekurangan dok ibu : akte lahir anak, hak perwalian dan surat cerai, di fax ke 3841xxxdan 5358xxx. thanks another papers, another documents. why is it so friggin's difficult for a single mother to travel abroad? why on earth do they require such documents that in a way bring me back to the past and reveal the ol' wound and unpleasant memories? this is so tiring....
SANCTUARY - iromejan kalau agama membuat kita saling terasing dan membenci satu sama lain lepaskanlah
9th or 10th october 2007, we (total of 26 persons in group) visited american embassy to process our visa application. we were invited by one of major operators in Indonesia to visit USA as reward for being their best dealers. we were all equipped with sponsor letters, and other necessary documents. my company was represented by my director and my other colleague and myself. after a long various procedures, passing various barricades, I met with the interviewer. nice looking one. first question was "what is your purpose to visit USA?". I detailed my purpose of the trip and showed the bulk of well prepared documents. second question was "did you go to college?", I politely responded. "which university?", I also politely responded. he thorougly checked my documents, then with his plainface we said to me "unfortunately, you are not eligible to visit USA, this paper will explain". he handed my documents and gave me that piece of paper and that's it. "NEXT". having been fully briefed, I didn't bother to ask of why my application was being rejected. 4 persons in our group were rejected, including my director, along with one person from that operator company who was supposed to be an event organiser. fyi, she was the one who was responsible to take care of the programs during the visit. october 16, five of us we went back to the embassy. doing the same procedures. passing the same cold, grey walls. vis-a-vis with the same interviewer. first question was "how long have you been divorce?". SH*%$! None of your frriggin' business, I reluctantly explained. "It's all in the papers", I said, coldly yet politely. "how old is your son?" - I explained, coldly. "does he stay with you?" - of course he does, you m.... I nodded. it's all clearly stated in the papers, both from court and lawyer. "thank you. please see my colleage" off he handed my thick documents to his colleague. and I stepped to the next booth. another nice looking guy. after reading my documents , his question was "what do you sell actually?" - I explained, politely. gave him my best fake smile. his next question was "what is your purpose to visit USA?" - and I explained all over from the start, over again. "I am sorry, you don't have strong binding with your country. blah blah blah." and that's it folks, that would be my second and probably the last time visiting that embassy. america surely is a dreamland, but going to america is not everything. me being single parent and beautiful is apparently a threat for american men. they afraid I am not going back to my beautiful country and stole one of their men. Apparently, the post 9/11 paranoia in the US is obsessive. It still is.
These are entries to a washington post competition asking for a two-line rhyme with the most romantic first line but the least romantic second line. My darling, my lover, my beautiful wife: Marrying you screwed up my life.
I see your face when I am dreaming. That's why I always wake up screaming.
Kind, intelligent, loving and hot; This describes everything you are not.
Love may be beautiful, love may be bliss, But I only slept with you because I was pissed.
Roses are red, violets are blue, sugar is sweet, and so are you. But the roses are wilting, the violets are dead, the sugar bowl's empty and so is your head.
I want to feel your sweet embrace, But don't take that paper bag off your face. I love your smile, your face, and your eyes Damn, I'm good at telling lies!
My love, you take my breath away. What have you stepped in to smell this way?
My feelings for you no words can tell, Except for maybe 'Go to hell.'
What inspired this amorous rhyme? Two parts vodka, one part lime.
senin, tujuh belas oktober dua ribu lima Petunjuk lewat SMS yang dikirim oleh Dindin, pengelola Yayasan Sekar tidak jadi saya gunakan karena ternyata Pak Indro sudah pernah menjemput anak-anak di sini. “Waktu outing ke hutan kota itu lho mbak..” Serombongan anak2 menghentikan laju kendaraan kami. “Ini tempatnya mbak”. Kata pak Indro, pengemudi yang ramah dari XL. “Koq mobilnya cuma dua, Kak?” “Kenapa Kakak sendirian aja?” “Kakak masih inget saya nggak?” Hehehe. Aneh rasanya di usia 40 masih dipanggil kakak oleh anak-anak yang lebih pantas menjadi anak-anak saya. Dibantu oleh beberapa anak-anak Sekar, segera Pak Indro menurunkan kaus dan topi sumbangan yang akan dipakai oleh anak-anak itu. Ada sekitar 80 anak berbagai usia yang menunggu dengan tidak sabar. Dengan tertib anak-anak dari berbagai usia ini berbaris menunggu pembagian kaus dan topi. Wajah-wajah sumringah itu. Betapa mudahnya membuat bahagia anak-anak ini. Dan haru menyergap tanpa sempat dihentikan. Memandang wajah-wajah ceria ini, memandang para relawan Sekar yang begitu bersemangat, memandang Ibu-Ibu yang berjejer melepas anak-anaknya. Usai membagikan kaus dan topi kepada anak-anak tersebut, kami segera menuju ke Hard Rock Café, tempat diselenggarakannya acara.berbuka puasa. Di dalam mobil yang kami kendarai, duduk dengan tertib si mungil Asri, Rita, dan Baron yang membawa drum kecil di bangku tengah lalu ada Utari, Puji dan Faidzin (Ijin) yang tak berhenti bersenandung. “Nyanyi lagu apa sih?” tanya saya pada Ijin. “Lagu Anak Pinggiran, Kak.” “Coba nyanyi’in doong. Pak Indro juga mau denger kan Pak?” Yang ditanya mengangguk mengiyakan. Tanpa ragu Ijin segera memetik gitar yang sedari tadi dipeluknya dan mulai bernyanyi dengan suaranya yang bening. inilah cerita anak pinggiran menggenggam sebuah harapan setia memberi tanpa meminta lagi untuk mewujudkan cita-citanya tak pernah takut dan tak pernah surut walau dirundung duka hidup ceria walau orang suka menyingkirkannya anak pinggiran tak pernah merasa gentar menggenggam mimpi-mimpi di atas kakinya sendiri mentari sahabat anak pinggiran rembulanpun menjadi teman setia memberi tanpa meminta lagi untuk mewujudkan cita-citanya siangpun menjadi malam malampun menjadi siang selalu berharap pada jalanan bagai ibunya Baron yang pendiam asik memukul-mukul drum sambil bersenandung mengikuti lagu yang dinyanyikan dengan apik oleh Ijin. Asri, gadis cilik berusia 9 tahun tampak tenang menikmati pemandangan di pangkuan saya. Tubuhnya yang ringkih terasa begitu ringan. “Apa ngga bingung ya Kak, orang yang mbuat jalan tol muter-muter gini?”, tanya Ijin ketika kendaraan kami melintasi jalan tol Cawang. “Kak, saya mau muntah” kata Asri lirih dan dengan tangkas Pak Indro menepikan kendaraan. Saya terhenyak. Aduh, saya seorang ibu, tetapi saya bahkan tidak pernah sanggup membersihkan muntah anak kandung saya sendiri, karena otomatis saya juga akan ikut muntah. Tetapi untungnya Asri tidak jadi muntah dan segera kami beriringan meneruskan perjalanan. Baron, si penabuh drum yang pendiam ini mengaku berusia 22 tahun ketika ditanya. Sungguh saya tidak menyangkanya, karena wajahnya masih begitu belia. “Saya udah ngga sekolah lagi, sudah kerja di yayasan. Bantu-bantu aja kak. Apa aja yang bisa dikerjain.” Jelasnya datar. Pukul 4.30 rombongan kami tiba di Hard Rock Café. Puji, Rita dan Ijin berbisik-bisik sambil memandang berkeliling. Banyak pesohor yang mereka kenal rupanya. “Kak, itu Sulis ya? Saya mau difoto doong.” Jepret “Kak, saya mau difoto sama Heidy Yunus dong.”. Jepret. “Itu kan Maya Ratu, aduh cantiknya.., foto dong Kak.” Jepret. Hampir pukul 5.30 petang ketika rombongan kedua tiba. Segera saja anak-anak ini menempati kursi-kursi yang sudah disediakan. Ternyata tak mudah menyuruh anak-anak ini untuk duduk terlebih saat mereka melihat para personil Dewa. “Pinjem pulpen dong Kak, mau minta tanda tangan.” Alhasil topi, sobekan kertas, kaus menjadi sarana untuk menorehkan tanda tangan. Tantowi Yahyapun tak luput dari serbuan anak-anak kecil yang mengitarinya menanti giliran menunggu tanda tangan. “Emang tau dia siapa?” goda saya pada seorang anak. Dengan enteng dia menjawab,”Itu lho Kak, yang di acara hu won tu bi yang tiap malem minggu itu.” Hehehe… oke deh kakak. Wiko yang malam itu berdandan ala A’a Reza dengan sorban putih terjurai terbengong-bengong ketika ada seorang anak meminta tanda tangannya.”Koq gue dimintain tanda tangan juga sih Bun?” hehehe… Ada kolak pisang, ada sup, ada opor ayam, ada sayur cah, ada telur kecap, tapi “Koq telurnya separuh sih Kak?” Hahaha…, tawa saya pecah tak tertahan. Buat saya puncak acara malam itu adalah ketika rombongan Baron, Ijin, Lendra dan 3 temannya naik ke atas pentas dan dengan percaya diri menyanyikan lagu Anak Pinggiran dan Elang (Dewa). Bukan suatu kemustahilan apabila kelak mereka bisa bernyanyi di tempat ini sebagai group pembuka atau malah menjadi leading band? Wallahuallam. Keberuntungan tidak selalu berpihak kepada semua orang, tetapi bermimpi adalah hak bagi semua manusia. Teruslah bermimpi, Baron, teruslah menulis puisi. Karena hidup itu sendiri adalah puisi. Teruslah bernyanyi Baron. Karena setiap helaan nafasmu adalah senandung. “ONCEEEEEEEEEEEE………………..” Dan anak-anak histeris, dan pengunjung histeris dan sayapun histeris ketika personel Dewa naik ke atas pentas. Satu persatu. Dan tepuk tangan gemuruh mengiring lagu Pupus. Dan saya berteriak sepenuh hati,’ONCEEEEEEEEEEEEEEEEEE………” Once, I love you more and more each day beibeh… ……………………… baru kusadariiiiiiii cintaku bertepuk sebelah tangaaaaaaaaaan ………………………
From: +61816xxx610 Date: 25/12/2007 Time:21:13:26 Duduk sebelahan tora sudiro ni, ganteg bgggttt bun, hehe (dikutip sebagaimana aslinya). gggrrrmmpphhh.., saya langsung menelpon di pengirim sms. "aku lagi makan di sensi bun, dia sama anaknya cewek, berdua aja, kinclong banget bun." haaa? si dia ada di sensi, padahal sesorean kami ada di sensi karena billy bermain lego disana. konon display lego di sensi terbesar di asia tenggara, dirakit oleh 20 lego crew selama 4 hari 3 malam. sayang kami tidak mendapatkan info mengenai perancangnya. kembali ke tora sudiro, apa yang akan saya lakukan kalau saya kebetulan berpapasan atau duduk bersebelahan dengan tora sudiro? a. pura-pura cuek padahal hati deg-degan setengah mampus? b. pura-pura hamil dan ngidam ingin mencium pipi tora.. ouch! c. sksdsa - sok kenal sok deket sok akrab dan langsung meminta foto bareng? d. memandang tora tanpa berkedip sehingga tora salah tingkah? e. over acting, membuat scene sehingga menjadi pusat perhatian? hmm..., tough choices! sampai saat ini saya masih belum menemukan alasan kenapa saya begitu tergila-gila pada tora sudiro. ganteng? relatif, banyak orang yang jauh lebih ganteng dibandingkan tora. but then again, degustibus non est disputandum. selera memang tidak bisa diperdebatkan.
tadi pagi ada teman yang mengirim situs ini http://www.bebo.com/Profile.jsp?MemberId=4853376070&ShowSims=Y. bicara tentang mie goreng, beberapa kali seminggu saya membawa sarapan mie goreng yang menjadi paporit teman-teman di kantor. dengan sedikit modifikasi, saya membuat mie goreng standard menjadi deluxe. katanya.. cara membuat : bahan-bahan : siapkan 3 bungkus indo mie (paporit saya adalah kari ayam), rebus sampai masak, lalu tirikan. 2 butir telur diongseng lalu pisahkan bumbu-bumbu 4 siung bawang putih digeprak (ditekan dengan pisau supaya remuk) lalu diiris halus 3 siung bawang merah diiris halus 1/2 butir bawang bombay diiris 6-7 buah cabai rawit diiris serong (konon cabe rawit yang diiris serong berkurang pedasnya dibandingkan cabe yang diiris bulat-bulat). 2 sdm minyak goreng (saya tidak menyarankan memakai margarin karena akan terlalu berlemak). 2 batang daun bawang diiris agak kasar cara membuat : api dinyalakan sedang, lalu masukkan irisan bawang putih dan bawang merah, setelah berbau harum, masukkan irisan cabe rawit, matikan api kompor. masukkan bumbu minyak dan bumbu lain yang ada di kemasan indo mie (saya tidak pernah mencampurkan bawang goreng dalam kemasan indo mie, rasanya ajaib sehingga merusak cita rasa mie goreng). setelah harum, masukkan daun bawang iris, aduk sebentar lalu segera masukkan mie yang sudah dimasak dan ditiriskan. masukkan telur yang sudah diongseng. voyla. mie goreng siap diembat. murah, ni'me' dan amat praktis (rekor tercepat saya adalah 7 menit dengan memakai 2 kompor sekaligus..)
tergelitik oleh komentar nabiel, liburan idul adha rabu kemaren saya manfaatkan untuk mencoba resep baru. bahan-bahan : daging cincang Rp. 13,000 (p.s. karena saya tidak tahu timbangannya, jadi saya masukkan harga belinya saja) 1 butir telur 1 bungkus tepung berbumbu 4 siung bawang putih dihaluskan 4 siung bawang merah digoreng lalu dihaluskan 2 sdm merica halus cara membuat : semua bumbu diaduk jadi satu sampai pulen (artinya tidak lengket dan menempel di spatula) dibentuk bulat-bulat seperti bakso lalu direbus sampai mengambang (ini artinya bakso-bakso tersebut sudah masak). bakso yang sudah direbus disayat-sayat lalu digoreng, jadilah bakso goreng yang sehat tanpa borax dan bahan pengawet lainnya. komentar nabiel. "baksonya ngga cuma nendang bun, tapi rasanya menghantam saking enaknya". duh, memandang belahan jiwa menyantap dengan lahap masakan yang saya buat, ditambah dengan komentar yang sangat membanggakan membuat saya menjadi semakin bersemangat. hehehe, bakso menghantam.. dan saya semakin bersemangat untuk mencoba-coba menciptakan resep sendiri. tak sabar rasanya menunggu libur akhir pekan besok.
"bun, aku pengen makan opor ayam, bosen makan indomie dan sosis melulu." ini permintaan nabiel waktu dia menelpon sore kemaren usai memberikan laporan pandangan mata tentang hasil ehb. duhh.., opor ayam? opor ayam buatan Ibu emang terkenal enak di kalangan keluarga, kuahnya yang putih kekuningan tampak berminyak berkilauan menggoda mata, harumnya bumbu rempah membangkitkan selera. ayam yang dipotong dengan ukuran yang pas membuat lidah berkecap. duuh, opor ayam? saya berkeliling bertanya pada 4 orang rekan kerja yang "berpotongan" bisa masak. hmm, tak satupun bisa menjawab, seorang teman memberikan solusi yang menarik "cari aja bumbu opor di carrefour, ada koq". hehehe. seperti tradisi di banyak keluarga lainnya, lebaran di keluarga kami identik dengan ketupat, opor ayam, sambal goreng ati. apa boleh buat, tampaknya lebaran haji kali akan berlangsung tanpa opor. and I miss you even more, Ibu.
05.00 : alarm berteriak-teriak kencang di telinga, kelopak mata seperti di-lem, kenapa lengket sekali dan sulit dibuka? rasa tanggungjawab (sebagai ibu karena mulai senin lalu Nabiel EHB) dan rasa malas (darn! keinginan untuk menarik selimut dan bergelung di bawahnya benar-benar menggoda) berperang dan akhirnya malas dikalahkan karena kesadaran bahwa Nabiel tidak boleh terlambat ke sekolah. 05.10 : menyiapkan air panas untuk mandi Nabiel 05.10 - 05.20 : menyiapkan sarapan sementara Nabiel mandi dan mengenakan seragam dan sepatu 05.20 - 05.30 : Nabiel makan pagi 05.45 : jemputan sekolah datang 05.45 : mandi dan siap-siap ke kantor 06.00 : baca headline Kompas hari itu 06.30 : siap-siap, goodbye fence, I'll see you later this evening. 08.30 - 18.00 : KERJA 19.00 - 20.00 : tiba di rumah, piring kotor menumpuk, lantai kotor perlu disapu, pakaian kotor masih menggunung menunggu giliran dicuci. pakaian bersih di lemari makin menipis. 20.30 : baca cerita pengantar tidur. 21.00 - 22.30 : kaca koran, tidur. besok pagi, tidak ada yang berubah, cucian kotor makin menumpuk! my goodness, ternyata berat sekali jadi ibu rumah tangga, tidak pernah ada jam kerja resmi. saya memilih dimarahi klien atau dimarahi boss ketimbang harus melihat tumpukan pakaian kotor yang menggunung. ternyata lebih mudah belajar pivot point ketimbang belajar memakai mesin cuci. I love you even more, Ibu.
setel alarm jam 4.55 pagi ini, ayo mandi cibang cibung, jam 5.30 pindah tidur di taksi. pak dian, supir langganan muter lagu-lagu hits dari band lokal (thank god hari ini dia ngga muter lagu-lagu panbers - eh, panbers ato panbres ya?). "bangun mbak, sudah sampe kantor". hmm, jam 6.15. kenapa semuanya kliatan samar-samar ya? hmm, baru inget hari ini memang sengaja ngga pake soft lens karna kemarin mata kanan merah banget. haiyaa..., kedua bola mata minus 5 dan 3,5 ini bakalan kerja keras hari ini. hanya ada 2 pilihan, lasik atau beli kacamata. hmm.., tough choices. let's think about it later and in the meantime, selamat datang dunia samar-samar.
 sabtu, hujan sesiangan, sampai sore ini.., waktu yang tepat untuk leyeh-leyeh, membaca the road-nya Cormac McCharty (notice there are four C's in his name!) - cerita tentang bapak dan anak yang mencoba bertahan dari efek kehancuran dunia karena global warming. di luar, hujan menggila, petir bersahut-sahutan, suaranya menggelegar, bagai sepasang kekasih remaja tengah beradu argumen. nabiel, jagoan saya, sibuk mengisi te-te-es koran kompas minggu lalu. hobby baru. "kalo abis diisi semua, kita kirim ya bun. hadiahnya banyak lho.., seratus lima puluh ribu." saya mengangguk mengiyakan. sudah dua minggu ini saya dan nabiel hanya menghabiskan akhir pekan di rumah. karena berulangkali meninggalkan barang-barang pribadinya di sekolah, saya memutuskan untuk memberikan hukuman. supaya dia bisa belajar menghargai miliknya. saya memberikan kebebasan dia untuk menentukan hukumannya sendiri. "...ngga ke mall 6 minggu", itu hukuman yang dia pilih sendiri. Q : kenapa 6 minggu? A : kan enam minggu lama.. Q : kenapa mall? A : kan ada toko bukunya, berarti aku ngga bisa baca buku, ngga bisa beli buku Q : do you think that's fair enough? A : iya jadilah di akhir pekan kedua ini kami berkutat di kamar, mengerjakan kesukaan masing-masing. saya dengan bacaan saya, dia dengan te-te-es-nya. suara laura fygi yang serak seksi ditambah hujan yang terus menerus turun sepanjang siang hingga sore ini membuat saya tertidur, entah berapa lama karena saya terbangun oleh guncangan billy. "bangun bun, banjir.." haaa? banjir? di kompleks kita? no way! YES WAY! air limpahan anak sungai ciliwung di seberang jalan melimpah ke jalan di depan rumah. pelahan-lahan air semakin meninggi. batas pekarangan, batas pagar, batas pintu masuk, dan kami panik. bukuku...!!! jam 4 sore, air sudah mencapai batas pintu masuk. jadilah sedulur-sederek sakalian, kepanikan melanda rumah. nabiel dan mila (adik saya yang kebetulan menginap di rumah) sibuk memindahkan buku-buku ke tempat yang aman. sementara rania - my chubby little niece who calls herself a whale) - tetap asyik dengan rumah-rumahannya. ibu saya sibuk mengamankan pot-pot kesayangannya. "aduh, pot-pot gue anyut ngga ya?", katanya. saya? saya sibuk memotret! sesekali memaki-maki orang-orang yang justru membuang sampah saat banjir seperti ini. serombongan anak-anak berbaju putih biru berenang-renang di depan rumah saya. haaa, kids are kids! jam 4 sore, air sudah mencapai batas pintu masuk. sekitar jam 5 sore hujan mereda, banjir melesat dengan cepat kembali ke pori-pori tanah. beberapa payung warna warni menghampiri, beberapa tetangga menginspeksi lingkungan setelah hujan reda. secepat itu banjir datang, secepat itu pula ia menghilang. sensasinya seperti membayangkan kemping satu tenda dengan tora sudiro. khayal sekali.
di langit ada camar melintas teriakkan sepi tak ada jawab sunyi saja serpih perih
bersama kita titi kemarin di kolong tempat tidurku bongkahan rindu terbaring kering telaga, pada setiap sela kamu hadir menyapa sela telah kuhitung persamaan dan perbedaan mengkaji ulang harapan andai tiba kenyataan kamu tak tergapai kemana harus kubawa selaksa duka menggayut batin yang kian lara wahai, kemana harus menepi tentramkan badai di hati
 | renjana | Sep 28, '07 2:02 AM for everyone |
pour : e.n. dalam kebimbangan kadang aku dihadapkan pada kenyataan yang tak pernah kuduga cinta itu kepasrahan nyatanya entah pada siapa
jemarimukah yang mengetuk sepi? bangunkan asa yang tak semestinya ada biarkan aku lelap saja karna dalam mimpipun tak mampu aku hadirkan kamu kenangkan saja hari hari pualam ketika bimbang menyeret logika dalam debat tak berkesudahan hentikan saja mereka reka peristiwa karna kata sudah kehilangan makna diammu menikamku, wahai lelaki tak bernama karna tatapmu tak lagi janjikan mentari mari sudahi saja
catatan ulang tahun suara yang memanggil sayup dalam balutan gerimis suaramukah? di tingkap tinggi rumah masa lalu begitu hening anganku mengembara dalam lintasan masa kenangan yang pendar tak lekang begitu pekat rindu memagut bayangmu menjalin remahan sepi tapi tak hendak kutepis mimpi karna bayangmu kadang singgah di sana di malam yang bukan punya siapa siapa bayangmu kadang hadir
 | JINGGA | Sep 28, '07 1:47 AM for everyone |
randu tunduk takzim pada kelam yang kekal dan rana kian sempurna mengunyah bayangmu tak ada yang tersisa
| |